Nikel adalah salah satu logam penting dalam kehidupan modern. Logam ini digunakan untuk membuat baja tahan karat, campuran logam, hingga bahan baku baterai kendaraan listrik. Namun sebelum menjadi produk yang kita kenal, nikel berasal dari bijih yang ditambang dari dalam tanah. Menariknya, bijih nikel tidak hanya satu jenis. Ada dua lapisan utama yang sering ditemukan, yaitu limonit dan saprolit. Keduanya sama-sama mengandung nikel, tetapi punya karakter berbeda dan cara pengolahan yang berbeda pula.
Limonit: Lapisan Atas Kaya Besi
Limonit berada di bagian paling atas dari endapan nikel laterit. Lapisan ini biasanya memiliki kadar nikel yang relatif rendah (kurang dari ±0,8%), tetapi kandungan besinya cukup tinggi (lebih dari 50%). Kadar kobaltnya di bawah 0,1%, sedangkan kandungan magnesium oksida juga rendah.
Secara fisik, limonit cenderung bertekstur halus seperti tanah lempung dan terbentuk akibat proses pelapukan batuan di permukaan tanah dalam waktu yang sangat lama. Karena kandungan besinya tinggi dan nikelnya lebih rendah, limonit umumnya diolah menggunakan metode hidrometalurgi, salah satunya dikenal dengan proses HPAL (High Pressure Acid Leaching). Dalam proses ini, bijih direaksikan dengan asam pada tekanan dan suhu tinggi untuk mengekstraksi nikel dan kobalt. Hasil akhirnya sering dimanfaatkan sebagai bahan baku industri baterai kendaraan listrik.
Saprolit: Lapisan Bawah yang Lebih Kaya Nikel
Di bawah limonit terdapat saprolit. Lapisan ini biasanya memiliki kadar nikel yang lebih tinggi dan kandungan besi yang lebih rendah dibandingkan limonit. Saprolit terbentuk dari proses pelapukan lanjutan, di mana air hujan membawa unsur nikel dari lapisan atas lalu mengendapkannya di bagian bawah.
Secara fisik, saprolit masih memperlihatkan bentuk asli batuan induknya. Bahkan, sering ditemukan bongkahan batu dengan kadar nikel tinggi di dalamnya. Karena kandungan nikelnya lebih besar, saprolit menjadi jenis bijih yang banyak dimanfaatkan industri. Saprolit dapat dibedakan menjadi dua tipe berdasarkan tingkat pelapukannya:
- Soft Saprolite – Tingkat pelapukan tinggi, dengan fragmen batuan (boulder) kurang dari 25%.
- Rocky Saprolite – Tingkat pelapukan lebih rendah, dengan kandungan fragmen batuan lebih dari 50%.
Berbeda dengan limonit, saprolit umumnya diolah menggunakan metode pirometalurgi, seperti proses RKEF (Rotary Kiln Electric Furnace). Proses ini menggunakan suhu sangat tinggi untuk menghasilkan produk seperti nickel pig iron atau feronikel, yang banyak digunakan dalam industri baja.

Terbentuk dari Proses Alam Tropis
Baik limonit maupun saprolit merupakan bagian dari tanah laterit, yaitu tanah berwarna merah kecokelatan yang kaya besi dan aluminium. Endapan ini banyak ditemukan di wilayah beriklim tropis dengan curah hujan tinggi, seperti Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Papua.
Proses pembentukannya terjadi selama jutaan tahun akibat pelapukan batuan yang mengandung mineral pembawa nikel. Unsur-unsur tertentu larut dan terbawa air, sementara sebagian lainnya tertinggal dan membentuk lapisan berbeda.
Memahami perbedaan limonit dan saprolit sangat penting dalam industri pertambangan dan pengolahan nikel. Setiap jenis bijih membutuhkan pendekatan teknologi yang berbeda agar pengolahannya efisien dan menghasilkan produk bernilai tinggi. Dengan strategi yang tepat, pengelolaan kedua jenis bijih ini dapat mendukung produksi nikel yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasok global, termasuk untuk industri baterai kendaraan listrik.
Singkatnya, meskipun berasal dari sumber yang sama, limonit dan saprolit memiliki “karakter” berbeda. Dan seperti halnya karakter manusia, perbedaan itu menentukan bagaimana mereka diperlakukan dan dimanfaatkan secara optimal. (**)
(Dihimpun dari berbagai sumber)