Nikel merupakan salah satu logam yang sangat penting dalam kehidupan modern. Logam ini dikenal kuat, tahan korosi, stabil pada suhu tinggi, serta mampu menghantarkan panas dan listrik dengan baik. Karena sifat-sifat tersebut, nikel banyak digunakan dalam berbagai industri, dari baja tahan karat hingga teknologi baterai kendaraan listrik (EV).
Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan nikel di dunia terus meningkat. Salah satu pendorongnya adalah pesatnya perkembangan industri kendaraan listrik yang menggunakan nikel sebagai bahan utama pada katoda baterai. Kondisi ini membuat negara dengan cadangan nikel besar memiliki peran penting dalam rantai pasok global.
Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Sekitar 12 persen cadangan bijih nikel global berada di Indonesia, terutama tersebar di Pulau Sulawesi, Maluku, dan sejumlah pulau kecil di sekitarnya. Sebagian besar cadangan tersebut berupa bijih nikel laterit yang terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu saprolit dan limonit.
Saprolit merupakan bijih nikel dengan kadar nikel relatif tinggi, bahkan dapat mencapai sekitar 2,5 persen. Bijih ini umumnya mengandung magnesium dan silika. Sementara itu, limonit memiliki kadar nikel lebih rendah—biasanya di bawah 2 persen—dan didominasi kandungan besi. Meski kadar nikelnya lebih rendah, limonit sebenarnya merupakan jenis bijih yang jumlahnya paling banyak ditemukan.
Perbedaan karakteristik tersebut membuat metode pemurnian nikel tidak bisa disamaratakan. Dalam industri pengolahan mineral, terdapat beberapa teknologi yang digunakan untuk mengekstraksi dan memurnikan nikel dari bijih laterit.
Tiga Metode Pengolahan Nikel
Secara umum, ada tiga metode utama dalam pengolahan bijih nikel laterit, yaitu hidrometalurgi, pirometalurgi, dan reduksi selektif.
- Hidrometalurgi
Hidrometalurgi merupakan metode pemurnian yang menggunakan proses pelindian atau pelarutan dengan bantuan larutan kimia, biasanya asam. Salah satu teknologi yang dikenal dalam metode ini adalah High Pressure Acid Leaching (HPAL), yaitu proses pelindian menggunakan asam pada tekanan dan temperatur tinggi.
Dalam proses ini, bijih nikel dicampur dengan larutan asam sehingga logam nikel dapat larut dan dipisahkan dari mineral lainnya. Metode hidrometalurgi dikenal mampu menghasilkan tingkat pemulihan nikel yang tinggi. Selain itu, dibandingkan metode berbasis suhu tinggi, proses ini relatif lebih hemat energi. Namun demikian, hidrometalurgi memiliki proses yang cukup kompleks dan memerlukan pengelolaan limbah yang baik agar tidak menimbulkan dampak lingkungan.
- Pirometalurgi
Metode kedua adalah pirometalurgi, yaitu proses pemurnian menggunakan temperatur sangat tinggi yang bisa mencapai sekitar 1.600 derajat Celsius. Karena membutuhkan panas tinggi, proses ini memerlukan energi besar.
Salah satu teknologi yang banyak digunakan dalam pengolahan nikel laterit adalah Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). Teknologi ini bekerja melalui dua tahap utama, yaitu pemanasan dan reduksi bijih dalam tungku putar (rotary kiln), kemudian peleburan dalam tungku listrik (electric furnace).
Metode pirometalurgi umumnya digunakan untuk mengolah bijih saprolit yang memiliki kadar nikel lebih tinggi. Hasil dari proses ini biasanya berupa nickel pig iron (NPI) sebagai bahan baku penting dalam industri stainless steel.
- Reduksi Selektif
Selain dua metode utama tersebut, ada pula metode reduksi selektif. Proses ini dilakukan dengan mengatur reaksi kimia agar unsur besi tidak ikut terbentuk secara berlebihan sehingga kadar nikel yang dihasilkan lebih tinggi.
Metode ini dianggap sebagai alternatif pengolahan bijih nikel laterit, khususnya untuk jenis limonit dan saprolit, dengan tujuan memperoleh konsentrat nikel berkadar tinggi tanpa kebutuhan energi terlalu besar.

Pengolahan Nikel di Kawasan IMIP
Sebagai kawasan industri pengolahan nikel terintegrasi, Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) memanfaatkan berbagai teknologi pemurnian sesuai dengan jenis bijih yang diolah. Untuk bijih nikel jenis saprolit, proses pemurnian umumnya dilakukan di klaster stainless steel dan carbon steel menggunakan teknologi RKEF. Teknologi ini mengolah bijih nikel menjadi NPI yang kemudian digunakan sebagai bahan baku industri baja.
Sementara itu, bijih limonit diolah dalam klaster bahan baku EV battery menggunakan teknologi HPAL. Melalui proses ini, nikel dapat dipisahkan dan dimanfaatkan sebagai bahan penting dalam rantai produksi baterai kendaraan listrik.
Dalam proses mengolah nikel, peralatan seperti tungku listrik memiliki peran sangat vital. Karena prosesnya melibatkan suhu tinggi dan teknologi kompleks, penerapan standar kesehatan dan keselamatan kerja (K3) menjadi hal amat penting demi memastikan operasional berjalan aman dan efisien.
Melalui berbagai teknologi pemurnian tersebut, pengolahan nikel tak hanya menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, tapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai industri global, terutama di sektor baja dan energi masa depan.[]
Sumber:
Bahfie, F., Manaf, A., Astuti, W., Nurjaman, F. dan Herlina, U. “Tinjauan Teknologi Proses Ekstraksi Bijih Nikel Laterit”, dalam Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara, Vol 17. No 3, hlm. 135–152, (2021).