Morowali, 03 Oktober 2026 – Di sepertiga malam terakhir, saat sebagian besar makhluk Tuhan masih terlelap, Ruslan (40) bersama istri dan ibu mertuanya sudah berjibaku menyiapkan rempah-rempah yang akan melengkapi menu bubur ayam. Usaha yang mulai dirintisnya sejak 2019 di Desa Keurea itu, memang tersohor di kalangan para pekerja IMIP (Indonesia Morowali Industrial Park). Bubur ayam Bandung Bintang 14 telah menjadi salah satu menu sarapan yang paling diminati. Apalagi harganya terbilang ramah di kantong. Cuma Rp15.000 per porsi.
“Bubur ini kan ibaratnya diterima semua kalangan. Baik dari bayi, anak-anak, orang dewasa, maupun orang sakit yang sedang dalam masa pemulihan,” kata Ruslan saat ditemui di warungnya pada akhir September 2026. Berbekal resep turun-temurun dari ayahnya, dia memberanikan diri hijrah ke Bahodopi dari kampung halamannya di Kabupaten Buol.
Saat ini, dengan bantuan 10 orang karyawan, bubur ayam Bintang 14 telah membuka enam cabang pada beberapa desa di Kecamatan Bahodopi. Mulai melayani pembeli dari pukul 07.00 Wita sampai 12.00 Wita, Ruslan mampu meraup omzet sampai Rp11 juta setiap harinya.
Ruslan hanya satu dari sekian ribu pelaku usaha di Bahodopi yang mengambil peluang dari sebuah perkembangan industri. Mereka melihat itu dari begitu masifnya angka serapan tenaga kerja yang terbentuk di Kawasan IMIP. Data HR Department PT IMIP mencatat, pada tahun 2020 jumlah tenaga kerja di Kawasan IMIP sebanyak 35.592 orang, 2021 naik menjadi 51.542 orang. Tahun 2022 sebanyak 68.466 orang, 2023 ada 74.350 orang dan 2024 sekitar 83.000 orang. Tahun 2025 naik lagi menjadi 86.804, dan hingga September 2026, jumlah karyawan di Kawasan IMIP telah mencapai 100.310 orang, dengan rincian 91.904 karyawan laki-laki dan 8.406 karyawan perempuan.
Dengan total populasi pekerja seperti itu, perputaran uang juga tentunya tidak sedikit. Misalnya pada 2025 saja dengan populasi pekerja mencapai 86.804 orang, estimasi perputaran uang di Bahodopi diperkirakan mencapai Rp499,1 miliar tiap bulan, atau setara Rp5,9 triliun per tahun. Angka sebesar itu bukan hanya nominal statistik. Ia menciptakan kebutuhan harian yang tidak bisa dipenuhi kawasan industri sendirian.
“Pertumbuhan kawasan yang begitu masif, turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang. Riset mencatat lima jenis UMKM terbanyak di Bahodopi, antara lain Kios Pertamini (981 unit), Stan Minuman (735), Stan Makanan non-bangunan (670), Kios Umum (648), dan Warung Makan (591). Sebagian besar UMKM berada pada kategori usaha mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun, namun tren pertumbuhannya menunjukkan potensi naik kelas,” ucap Head of Media Department PT IMIP, Dedy Kurniawan, Jumat (02/09/2026).

Tak jauh dari bubur ayam Bintang 14, menyusuri Jalan Trans Sulawesi menuju Desa Fatufia, aroma nasi kuning pun menjadi penanda pagi bagi para pekerja untuk memulai aktivitas. Di sanalah Nursia Asis (45), yang akrab disapa Mak Indah, menanti karyawan yang hendak berangkat atau baru pulang sif malam. Nasi kuning racikannya memang sangat digemari di kalangan “helm kuning” (istilah yang disematkan bagi para pekerja IMIP karena mayoritas menggunakan pelindung kepala berwarna kuning). Harganya sangat terjangkau, porsinya melimpah, serta cita rasa lauknya terjaga sejak ia merintis usaha pada Januari 2014 silam.
Berkat konsistensinya, usaha rumahan ini mampu menghabiskan puluhan kilogram beras setiap hari dan mendatangkan omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan. Meski warung makan di sekitar IMIP kian banyak dan ada yang buka 24 jam, dia tidak merasa tersaingi. Mak Indah menganggap rezeki sudah ada yang mengatur. Dia bahkan sering dimintai resep dan tips berjualan oleh pedagang lain, serta tak segan melontarkan candaan ringan kepada pelanggan.
Mak Indah menjadikan rutinitas memasak dan berjualan sebagai bekal masa depan terbaik bagi ketiga anaknya yang saat ini tinggal di Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Indah Mayangsari (23) lulus dari Jurusan Teknologi Informasi Universitas Nusa Nipa, Maumere, dengan IPK 3,65, dan kini menjadi pengajar mata pelajaran komputer serta mengelola tata usaha di Kota Kupang. Muhammad Wildan (19) menyelesaikan studi arsitektur di sekolah teknik menengah di Flores dan sedang menjalani pendidikan militer TNI AD di Bogor. Sementara itu, putra bungsunya, Muhammad Azwar Alam (12), bersekolah di pesantren setingkat SMP di Bungku, Morowali, dan bercita-cita menjadi tentara Angkatan Laut.
“Saya hidup biasa saja. Biar tetangga punya mobil atau apa, saya tidak. Yang penting anak-anak bisa sekolah tinggi, jangan kayak saya yang hanya tamatan SMK,” kata ibu tunggal itu, merendah.
Sejak awal IMIP menyadari, membangun ekosistem nikel yang terintegrasi, dari pengolahan bijih, smelter, hingga rantai pasok energi, tidak akan lengkap tanpa adanya inklusi sosial-ekonomi. Selama tiga belas tahun terakhir, Kawasan IMIP mendedikasikan diri menjadi mitra strategis bagi para pelaku usaha yang ada di sekitar kawasan industri. Membuka pintu lebar-lebar bagi para kontraktor daerah, penyedia logistik, perajin, hingga ratusan pelaku UMKM kuliner dan hunian yang menjadi penopang kehidupan puluhan ribu pekerja di kawasan ini.
“Saya itu intinya usahaku maju, karyawan IMIP tidak mengalami efisiensi. Kalau ada pengurangan karyawan, jelas omzet kami pengusaha warung akan minim,” ujar Mak Indah. Sementara Ruslan memilih mempertahankan sesuatu yang paling dekat dengannya. Resep keluarga, pelayanan, dan hubungan baik dengan pelanggan. (*)