Hepatitis yang juga dikenal sebagai peradangan hati acapkali disalahpahami dan menimbulkan ketakutan berlebih bagi banyak orang. Di Indonesia, keberadaan virus ini cukup sering diwarnai mitos soal informasi penularan tidak tepat di tengah masyarakat. Misalnya, penyakit ini dianggap sudah pasti mematikan dan sulit untuk disembuhkan. Bahkan diperparah stigma negatif terhadap para pengidapnya. Padahal, tidak semua jenis hepatitis termasuk kategori menular melalui cara yang sama. Terpenting, penyakit ini pun bisa dicegah serta diobati.
Keberhasilan Vaksin Blumberg
Setiap 28 Juli, dunia memperingati Hari Hepatitis Sedunia sebagai penghormatan kepada Dr. Baruch Samuel Blumberg, ilmuwan yang menemukan virus Hepatitis B pada 1965 sekaligus mengembangkan vaksinnya. Penemuannya menjadi tonggak penting dalam dunia kesehatan karena membuka jalan bagi identifikasi jenis-jenis virus hepatitis lainnya serta pengembangan upaya pencegahan yang lebih efektif.
Meski baru dipahami secara ilmiah pada abad ke-20, penyakit hepatitis telah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Catatan sejarah menyebutkan wabah penyakit kuning pernah terjadi di Eropa pada tahun 752, sementara Hipokrates sekitar abad ke-4 SM telah mendeskripsikan gangguan hati yang ditandai perubahan warna kulit dan mata menjadi kekuningan. Bukti serupa juga ditemukan dalam catatan kuno Babilonia dan Tiongkok yang menggambarkan penyakit yang menyerang organ hati.
Perkembangan penelitian hepatitis semakin pesat setelah insiden pada Perang Dunia II. Pada 1942, puluhan ribu tentara Amerika Serikat mengalami penyakit kuning setelah menerima vaksin demam kuning yang terkontaminasi plasma darah. Peristiwa ini mendorong penelitian lebih lanjut hingga pada 1947 ilmuwan Inggris Dr. Frederick O. MacCallum membedakan hepatitis berdasarkan cara penularannya, yaitu melalui makanan atau air yang terkontaminasi serta melalui darah dan cairan tubuh. Penelitian tersebut menjadi dasar bagi pengembangan vaksin Hepatitis B yang kemudian terus disempurnakan hingga menjadi vaksin rekombinan yang lebih aman dan digunakan secara luas saat ini.

Mitos dan Fakta Hepatitis
Masih banyak anggapan keliru mengenai hepatitis. Padahal, hepatitis bukan hanya satu penyakit, melainkan kelompok infeksi yang terdiri atas Hepatitis A, B, C, D, dan E. Masing-masing memiliki penyebab, cara penularan, dan penanganan yang berbeda.
Hepatitis juga bukan penyakit keturunan. Penularannya terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi, darah, cairan tubuh, atau dari ibu ke bayi, sehingga vaksinasi sejak dini menjadi langkah pencegahan yang sangat penting.
Hepatitis tidak menular melalui kontak biasa seperti berjabat tangan, berpelukan, batuk, atau berbagi alat makan. Sebaliknya, risiko penularan lebih banyak terjadi melalui darah, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, transfusi darah yang tidak aman, atau hubungan seksual tanpa perlindungan.
Anggapan bahwa hepatitis tidak dapat disembuhkan juga tidak sepenuhnya benar. Hepatitis B dapat dikendalikan dengan terapi antivirus, sedangkan Hepatitis C kini memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi melalui pengobatan modern. Selain itu, tidak semua penderita menunjukkan gejala sejak awal. Banyak kasus Hepatitis B dan C baru terdeteksi setelah terjadi kerusakan hati, sehingga pemeriksaan kesehatan dan deteksi dini sangat dianjurkan, terutama bagi kelompok yang berisiko.
Koordinator OH-IH (Occupational Health and Industrial Hygiene) PT IMIP dr. Ferdy Nurhadi MKK, HIU menjelaskan, hepatitis memiliki gejala penyakit umum, tidak seperti gejala penyakit spesifik seperti TB dan HIV yang dapat menular masif. Dalam banyak kasus, HbsAg (hepatitis b surface antigen) dapat disembuhkan.
“Sebenarnya Hepatitis banyak jenisnya, dari A sampai E, tetapi orang umumnya hanya mengenali Hepatitis B. Setiap jenisnya punya penularan yang berbeda. Hepatitis A biasanya penularannya melalui kotoran dan secara oral, sedangkan hepatitis B lewat cairan tubuh,” ucap dr. Ferdy, Selasa (28/07/2026).
Ferdy menekankan, hingga kini belum pernah terdeteksi pengidap hepatitis kronis di kawasan IMIP. Di samping potensi kemunculan kasusnya sangat rendah, pasien karyawan dengan diagnosa hepatitis masih dalam tingkat yang dapat disembuhkan.Memahami sejarah, cara penularan, dan fakta ilmiah mengenai hepatitis menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Hepatitis bisa dicegah. Dengan vaksinasi, perilaku hidup bersih dan sehat, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala, risiko hepatitis dapat ditekan sehingga kesehatan hati tetap terjaga. Mulailah dari kebiasaan sederhana hari ini untuk melindungi diri, keluarga, dan orang-orang di sekitar Anda.[]
(Diolah dari berbagai sumber)
5 Langkah Cegah Hepatitis
| 💉 Lengkapi Vaksinasi Hepatitis A & B | Membantu tubuh membentuk perlindungan terhadap virus sekaligus mengurangi risiko penularan di masyarakat. |
| 🧼 Jaga Kebersihan Diri dan Makanan | Biasakan mencuci tangan dengan sabun dan mengonsumsi makanan serta minuman yang bersih dan matang. |
| ❤️ Hindari Penularan Melalui Kontak Darah dan Seksual | Gunakan praktik hubungan seksual yang aman serta pastikan jarum suntik, tato, atau tindik menggunakan peralatan steril. |
| 🚫 Jangan Berbagi Barang Pribadi | Hindari berbagi sikat gigi, pisau cukur, gunting kuku, atau benda lain yang berpotensi terpapar darah. |
| 🍃 Jaga Pola Hidup Sehat | Batasi konsumsi alkohol untuk membantu menjaga fungsi hati tetap optimal. |