PT Indonesia Morowali Industrial Park

Dari Keraguan, IMIP Hadir Ciptakan Peluang

Morowali, 03 Oktober 2026 – Bagi Fitra, raung ribuan motor yang memenuhi jalan Bahodopi setiap pergantian sif bukan sekadar bising. Itu tanda peluang bisnis terbuka lebar. Pada 2017, dia membuka bengkel motor pertamanya di Desa Siumbatu. Yang menjaga bengkel motor itu istrinya. Dia sendiri di Kalimantan, masih bekerja di pertambangan. Setahun kemudian, bengkel motor itu pindah ke Bahodopi, ke jalan yang belum sepenuhnya beraspal. Setelah 14 tahun bekerja di tambang Kalimantan dan terdampak Covid-19, dia berhenti dan fokus mengurus bengkelnya sendiri. Fitra mengambil keputusan itu karena mengamati mayoritas karyawan di kawasan industri IMIP memakai sepeda motor. 

“Perubahannya cepat sekali. Tahun 2018 jalan belum beraspal, dua tahun kemudian warga membangun dengan masif, 2020 terus berkembang, dan 2026 sangat pesat,” ujarnya. Sekitar 90 persen pelanggannya kini karyawan IMIP. Bengkel Segar Jaya Berkah punya enam cabang dengan lebih dari 50 karyawan, dari admin hingga mekanik. Upah mekanik mencapai Rp8 juta per bulan.

Bahodopi terletak di sisi timur Sabuk Tengah Sulawesi, di tepi Teluk Tolo, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Selama puluhan tahun, kecamatan ini nyaris tak pernah masuk dalam percakapan nasional.

Semuanya bermula pada 2013, ketika pemerintah menetapkan kebijakan hilirisasi mineral dan melarang ekspor bijih mentah. Industri pengolahan dipaksa berdiri di dalam negeri. Morowali, dengan kandungan nikel dan akses pantai Teluk Tolo yang memungkinkan pembangunan pelabuhan industri, menjadi pilihan. Tiang pancang pertama ditanam di tanah Bahodopi, dan kawasan itu kemudian dikenal sebagai Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Tiga belas tahun berselang, IMIP tak lagi sekadar proyek industri. Kawasan ini mengubah lanskap Bahodopi dan menarik para perantau yang datang menggantungkan harapan untuk hidup lebih baik.

Data HR Department PT IMIP mencatat lonjakan tenaga kerja yang besar. Pada 2020 ada 35.592 orang. Angkanya naik menjadi 51.542 pada 2021, 68.466 pada 2022, 74.350 pada 2023, dan sekitar 83.000 pada 2024. Pada 2025 jumlahnya 86.804 orang. Hingga September 2026, karyawan di kawasan ini mencapai 100.310 orang, terdiri dari 91.904 laki-laki dan 8.406 perempuan. Dengan populasi pekerja sebesar itu, uang yang berputar pun besar. Pada 2025, ketika pekerja berjumlah 86.804 orang, perputaran uang di Bahodopi diperkirakan Rp499,1 miliar per bulan, atau sekitar Rp6 triliun per tahun. Angka itu menciptakan kebutuhan harian yang tak bisa dipenuhi kawasan industri sendirian.

“Pertumbuhan kawasan yang begitu masif turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang,” kata Head of Media Department PT IMIP, Dedy Kurniawan, Jumat (2/10/2026). Menurut riset yang dilakukan oleh tim riset SGA Department IMIP, lima jenis UMKM terbanyak di Bahodopi adalah kios Pertamini (981 unit), stan minuman (735), stan makanan non-bangunan (670), kios umum (648), dan warung makan (591). Sebagian besar berskala mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun, tetapi tren pertumbuhannya menunjukkan potensi naik kelas.

Dampaknya terlihat pada angka provinsi. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah, Muhamad Irfan Sukarna, dalam laporan Februari 2026 menyebut, ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2025 tumbuh 9,43 persen (yoy), naik dari 7,79 persen pada triwulan sebelumnya. Angka itu menempatkan Sulawesi Tengah di atas Kepulauan Riau dan sebagian besar provinsi lain. “Kinerja pertumbuhan ekonomi Sulteng ditopang oleh dominannya peran industri pengolahan berbasis nikel, pertambangan dan penggalian dalam struktur ekonomi daerah,” tulisnya.


Sementara itu, di luar pagar smelter, limpahan rezeki itu bergulir ke usaha-usaha domestik yang jeli melihat ceruk. Geliat yang sama menular pada Ayu Lestari Rahman. Warga Desa Fatufia ini jeli mengintip peluang dari tumpukan pakaian kotor. Di tengah rutinitas buruh pabrik yang memeras energi, urusan mencuci baju menjadi pekerjaan yang melelahkan.

“Di sini banyak orang yang sibuk bekerja, sehingga tidak sempat mencuci,” kata Ayu. Bersama suaminya, dia merintis usaha laundry BlueSea pada 2022. Bermodal awal Rp20 juta dan satu mesin cuci, mereka bergerilya memanfaatkan jaringan pertemanan pekerja pabrik.

Kini, mesin cuci BlueSea menggilas sekitar 200 kilogram pakaian per hari dari para pekerja, kontraktor, hingga pedagang dan warga sekitar. Dengan tarif reguler Rp7.000 per kilogram dan layanan kilat Rp15.000 plus fasilitas antar gratis dalam radius 3 kilometer. 

Kini BlueSea menjadi sumber pendapatan utama keluarga itu, dengan omzet sekitar Rp35 juta per bulan. Ayu berharap kawasan industri terus memberi ruang bagi usaha warga. “Semoga IMIP terus berkembang dan bisa terus menyerap tenaga kerja. Kalau karyawan sudah capek bekerja, jangan capek lagi mencuci. Bawa saja ke sini,” ujarnya. (*)

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
error: Konten Dilindungi !!